sejarah yang tak terjadi
berandai-andai tentang perubahan kecil yang bisa menghapus kita dari dunia
Coba luangkan waktu sejenak dan lihat telapak tangan teman-teman. Rasakan detak jantung di pergelangan tangan kita. Kita sering merasa bahwa kehadiran kita di dunia ini adalah sesuatu yang mutlak. Sesuatu yang sudah seharusnya terjadi. Padahal, pernahkah kita berandai-andai tentang betapa rapuhnya sejarah yang membentuk kita? Pernahkah kita menyadari bahwa sejarah sebenarnya dibangun di atas miliaran kebetulan yang sangat konyol? Jika kita menggeser satu saja batu kerikil di masa lalu, sangat mungkin kita tidak akan pernah bernapas hari ini. Kita tidak pernah ada. Menguap begitu saja menjadi sejarah yang tak pernah terjadi. Mari kita melakukan perjalanan waktu sejenak, bukan untuk melihat apa yang ada di buku sejarah, tapi untuk menyadari betapa beruntungnya kita bisa membacanya.
Dalam dunia sains, kita mengenal konsep Butterfly Effect dari Chaos Theory. Konsep ini bilang bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan Amazon bisa memicu badai tornado di Texas beberapa minggu kemudian. Sekarang, mari kita terapkan teori ini pada skala waktu kosmik dan geologis. Mundur ke 66 juta tahun yang lalu. Sebuah asteroid selebar kota Jakarta menghantam Semenanjung Yucatan. Kiamat bagi para dinosaurus, tapi berkah bagi mamalia kecil yang kelak menjadi nenek moyang kita. Namun, tahukah teman-teman fakta ilmiah di balik hantaman itu? Asteroid itu menabrak perairan dangkal yang kaya akan batu gipsum, melepaskan miliaran ton belerang yang menghalangi sinar matahari dan menciptakan musim dingin global. Para ahli astrofisika menghitung, seandainya asteroid itu datang lebih cepat atau lebih lambat 30 menit saja, rotasi bumi akan membawanya jatuh ke laut dalam di Pasifik atau Atlantik. Debu belerang tidak akan sebanyak itu. Dinosaurus mungkin akan selamat. Dan mamalia—nenek moyang kita—akan selamanya menjadi tikus kecil yang bersembunyi di bawah tanah. Hanya karena selisih waktu 30 menit di ruang angkasa, umat manusia mendapat tiket untuk lahir.
Oke, mari kita anggap dinosaurus memang sudah seharusnya punah dan mamalia mengambil alih. Apakah posisi kita sudah aman? Belum. Mari maju ke sekitar 74.000 tahun yang lalu. Di periode ini, leluhur kita, Homo sapiens, sedang mencoba bertahan hidup. Lalu, Gunung Toba di Sumatera meletus dengan sangat dahsyat. Letusan ini menciptakan volcanic winter yang menyelimuti bumi. Bukti genetika menunjukkan adanya sebuah bottleneck atau penyempitan populasi manusia secara ekstrem setelah peristiwa itu. Beberapa ilmuwan memperkirakan populasi manusia di seluruh dunia saat itu mungkin menyusut hingga tersisa beberapa ribu jiwa saja. Bayangkan, seluruh umat manusia yang ada saat ini berasal dari sekelompok kecil penyintas yang kedinginan, kelaparan, dan nyaris punah. Secara psikologis, kita memiliki apa yang disebut survivorship bias atau bias kelangsungan hidup. Kita merasa manusia adalah spesies yang dominan dan tak terkalahkan, karena kita melihat hasilnya hari ini. Kita lupa bahwa nenek moyang kita berkali-kali berada di ujung tanduk kepunahan. Bagaimana jika letusan Toba sedikit lebih lama? Bagaimana jika musim dinginnya lebih ekstrem? Cerita kita pasti tamat di sana.
Sekarang, mari kita tinggalkan skala bencana alam dan masuk ke sejarah yang lebih intim, yang terjadi di dalam tubuh leluhur kita sendiri. Ini adalah fakta biologis yang paling membuat kepala saya meledak. Setiap dari kita membutuhkan pertemuan yang sangat spesifik antara leluhur kita. Mundur 30 generasi saja—sekitar zaman kerajaan Majapahit—kita memiliki lebih dari satu miliar slot posisi nenek moyang yang harus terisi agar kita bisa lahir. Jika satu saja dari kakek buyut kita di abad ke-15 telat bangun tidur, ketinggalan kapal, atau meninggal karena flu sebelum memiliki anak, rantai itu terputus. Kita tidak akan pernah lahir. Lebih gila lagi, pikirkan tentang lotre sel sperma dan sel telur. Dari ratusan juta sel sperma dalam satu kali proses pembuahan, hanya ada satu yang membawa setengah cetak biru DNA teman-teman. Jika ayah dan ibu kita menunda kehadiran kita lima menit saja, sel sperma yang menang akan berbeda. Yang lahir bukan kita, melainkan saudara kita yang wajah dan sifatnya berbeda. Rantai keberhasilan reproduksi ini tidak pernah terputus selama 4 miliar tahun, membentang dari organisme bersel satu purba, ikan purba, primata, hingga ke kedua orang tua kita. Secara matematis, eksistensi kita adalah sebuah kemustahilan yang luar biasa.
Membayangkan sejarah yang tak terjadi kadang bisa memicu perasaan hampa. Kita merasa sangat kecil dan rapuh di hadapan semesta yang berjalan acak. Namun, mari kita ubah sudut pandang tersebut. Justru karena kita adalah sebuah ketidakmungkinan matematis, keberadaan kita hari ini adalah sebuah keajaiban yang harus dirayakan. Kita adalah pemenang dari miliaran lotre kosmik, geologis, dan biologis. Nenek moyang kita selamat dari asteroid, zaman es, letusan gunung berapi, wabah penyakit, hingga perang. Mereka bertahan hidup agar hari ini, kita bisa bernapas, minum kopi, membaca artikel ini, dan memikirkan alam semesta. Menyadari hal ini seharusnya menumbuhkan empati yang mendalam di antara kita. Kita semua sama-sama penyintas dari sejarah yang kejam. Jadi, alih-alih merasa cemas karena rapuhnya eksistensi ini, mari kita jalani hidup dengan rasa syukur yang radikal. Kita hidup hari ini di tempat yang seharusnya tidak ada jaminan bagi kita untuk ada. Mari kita buat setiap detiknya menjadi bermakna.